CURHATKU…
October 12th, 2011 - Posted in Akhwat, Muslimah, TaujihatBarangkali, Aku Salah Memahami Tarbiyah, Selama Ini …
Mungkin sudah basi tapi semoga bermanfaat
Pada awalnya, aku merasa bahwa tarbiyah adalah ‘apa yang bisa kudapat?’, sehingga ketika berangkat liqo’ maka yang ada dalam fikiran adalah materi apa yang akan disampaikan murobbi.
Seiring dengan berjalannya waktu, aku mulai menyadari bahwa tarbiyah juga mengenai ‘apa yang bisa kuberikan?’, sehingga aku berfikir apa yang bisa ku-eksploitasi dari diriku untuk dapat berperan secara maksimal.
Dan ternyata pun tarbiyah tidak sesederhana itu, ia adalah komparasi antara apa yang di dapat dengan apa yang bisa diberikan. Disamping keinginan untuk berubah, ia juga merupakan bagian dari kesiapan untuk merubah. Tarbiyah tidak sekedar apa yang terjadi dalam sebuah jamaah, tapi juga apa yang terjadi pada masing – masing anggota pribadi yang ada di dalamnya, proses – proses yang terjadi di dalamnya dengan kerumitan masing – masing. Tarbiyah akan terus berlanjut, tidak berhenti, dan terus berkembang.
Kadang saya juga berfikir tentang sempitnya pengertian tarbiyah, pada lingkup jama’ah saja. Sehingga yang ada seringkali saya menghujat dan mencemooh ketidak-profesionalan system. Bias jadi saya salah, bisa jadi hujatan itu salah alamat,
Cintailah murobbi kita
Kadang mungkin kita merasa bahwa murobbi kita tidak cocok dengan kita, merasa tidak sefaham dll. Tapi yakinlah, ia adalah orang yang akan terus berusaha memahami kita, mendo’akan kita dalam setiap shalatnya, dan yang selalu siap untuk menerima segala macam pertanyaan, keluhan bahkan permintaan bantuan. Murobbi sungguh luar biasa (dan aku terlalu bodoh sehingga tidak benar2 menikmatinya pada waktu itu). Percayalah pada murobbi kita, karena ia juga percaya kepada kita.(mbak, maafkan aku, selama ini)
Tarbiyah itu indah …
Tentu saja, tarbiyah tidak sekedar rutinitas pekanan, murobbi dan mutarobbi. Tapi ia juga merupakan proses-proses yang terjadi di dalamnya. Dan kita tidak bisa membayangkan betapa indahnya proses itu, karena setiap orang memiliki proses tarbiyah-nya masing – masing, setiap peristiwa bahkan sebuah sistem juga memiliki prosesnya masing – masing. Jika dalam biologi molekuler, dalam setiap sel kita melihat perbedaan aktivitas dari ribosom, nucleus bahkan pergerakan di plasma sel itu sendiri, kompleks namun dinamis. Setiap orang mempunyai kecantikan proses tarbiyahnya masing – masing, begitu pula ribuan kader yang lain. Mereka berkomparasi menjadi satu kesatuan yang utuh, dinamis dan saling mendukung satu fungsi dengan fungsi yang lain. Keluarnya seseorang dari liqo’ bisa jadi bukan indikator keluarnya seseorang dari tarbiyahnya. Mungkin hal tersebut merupakan bagian dari proses yang harus ia jalani. Saya banyak mengenal orang yang keluar dari liqo’, padahal dulunya mereka merupakan ‘penggede’ di bidangnya. Ada yang dulunya ‘dengdengkot’ tarbiyah di BEM KM UGM, ada yang dulu merupakan murobbi handal, dengdengkot BEM FBS UNY dll. Bahkan kakakku sendiri (aku dulu mengidolakannya krn saking pintarnya) dulu merupakan kader yang sangat taat, ketika di kampus sangat aktif, bahkan ketika dia mulai di dakwah sya’bi, dia adalah orang yang progresif untuk menjadi pembimbing di kalangan tidak hanya anak – anak, bahkan remaja, bapak – bapak dan di kalangan ibu – ibu, dia sangat populer. Tapi pada akhirnya dia keluar liqo’ dan jama’ah. Aku banyak mengajak mereka berdiskusi waktu itu, mereka memberikan banyak pandangan dan persepsi. Dan pada akhirnya aku cukup memahami mengapa mereka keluar dari liqo’. Aku kagum pada apa yang mereka lakukan setelah itu. Mereka bertebaran dengan dakwah mereka masing – masing, mengerjakan hal – hal yang luar biasa, bahkan sampai mendirikan sekolah pula. Aku kagum pada mereka yang mempertahankan prinsip dan idealisme, berani berkata tidak untuk hal yang bathil. Dan aku yakin banyak orang seperti itu, walaupun mereka keluar dari liqo’, tetapi karena kefahaman yang utuh, mereka tetap ‘bertebaran’ menuai di ladang dakwah.
Dan aku hanyalah setitik debu …
Aku merupakan bagian dari kader yang tidak membanggakan, tidak utuh, tidak futuh. Aku bukanlah kader yang bisa diajak kerjasama dengan baik, minim kemampuan dan skill, ruhiyah dan pengetahuan tentang keagamaan yang sebatas kulitnya saja. Bahkan seringkali saya bertanya - tanya pada diri sendiri, mengapa sampai sekarang saya masih ikut liqo’? bikin malu kader tarbiyah yang lain saja. Tapi, inilah aku. Tarbiyah satu – satunya yang kumiliki dan aku tidak berniat melepaskannya. Semoga aku tidak salah melangkah selama ini. Aku menyadari kekurangan dari proses tarbiyahku, dan ketika kubuka lagi lembaran – lembaran “Sudahkah kita tarbiyah?” (Eko Novianto-red), hati ini terasa ngilu, perih dan tertohok – tohok. (MJJ = mak jleb jleb). Begitu jauhnya aku dari proses situ.
Sahabat …
Aku merasa terlalu sombong dalam hidup ini. Terlalu sombong untuk mengakui kekuranganku. Aku merasa telah begitu jauh melangkah dalam dakwah. Aku telah merasa telah melakukan banyak hal. Aku telah merasa memahami segala sesuatunya.
Padahal pada kenyataanya, aku bukanlah siapa – siapa, apa yang kulakukan bukan apa – apa.
AKU TIDAK INGIN MENJADI BEBAN DALAM DAKWAH, AKU BERHARAP BISA INGIN IKUT MEMIKULNYA, WALAU SETITIK.
Walaupun aku bukan siapa – siapa. Tidak banyak yang bisa kulakukan. Tapi aku yakin, kita adalah bagian dari roda itu. Maka, ijinkanlah aku bergabung bersama eksistensiku.
Aku, tarbiyah dan eksistensi
Sahabat …
Ada masa di mana aktivitas yang kita lakukan tidak berujung, sehingga kepenatan itu menyerang. Ketika aku berada di lembaga kampus, yang kufikirkan hanyalah proker dan mengejar target. Aku tak dapat menikmatinya, apalagi di lembaga yang notabene siyasi dan sarat akan kepentingan. Sudah tau tugas dan apa yang harus dilakukan, tapi belum sanggup menerjemahkannya dalam ranah yang lebih sederhana. Berfikir global tentang permasalahan bangsa tapi melupakan makna dan kesejatian yang ada di sekitarku, walaupun sangat sederhana. Aku menyadari banyak kegagalan dan kekuranganku dalam mengotak –atik sistem, Republik Mahasiswa yang banyak cacatnya, dan tentu saja peran di KAMMI yang bias dibilang mengecewakan. Saudara/I ku, maafkan aku yang terlalu bodoh untuk menafsirkan berbagai kebutuhan pada waktu itu, Teteh Dina, Agus, Mbak Ifah, Alvian, Mbak Suwi, Mbak Wahtini, Mbak Umi Puji, mbak Rahmy, Mbak Yuni, dkk.
Dan pada akhirnya, tarbiyah adalah proses dalam diri kita sendiri. Pada akhirnya ia adalah pilihan, akan seperti apa nantinya hidup ini dibawa. Dan kita bebas memilih, bebas berkreasi, dan tentunya harus bertanggung jawab terhadap pilihan itu.
Jangan salahkan siapapun terhadap apa yang akan terjadi. Yakinlah, bahwa ALLOH swt telah memberikan yang terbaik, kemarin, saat ini dan nanti.
Dan terbanglah para perindu surga …
Ketika kita telah banyak belajar, memahami, maka saatnya kita beraksi. Yakin dengan setiap langkah yang kita buat, karena segala sesuatu membutuhkan proses. Keputusasaan bisa jadi datang ketika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana. Tapi kita harus yakin bahwa segala sesuatu ada maknanya, hanya saja kita belum menyadarinya.
Dan adanya saudara yang mendukung adalah anugerah yang tak terhingga. Pada saatnya kini aku menapaki sebuah step kehidupan yang berbeda. Keaktifanku di Sekolah Pintar Merapi, merupakan sarana bagiku untuk belajar, sedikit tau tentang kondisi “nya’bi”. Aku tidak bisa mengatakan banyak di sini, karena butuh lembaran – lembaran baru yang lebih luas, tak akan habis dalam satu kali tag. Bersama teman – teman yang luar biasa, Akh Pidi yang Visioner, Mbak uzi yang banyak pengalaman dan inspiratif realistis, Putri yang penyayang dan penyabar, Isna yang tak terduga dan inisiatif, Lilin yang kreatif dan kata-katanya yang inspiratif, mbak Siska yang istiqomah, Sri yang manajemen dirinya bagus dan senyumnya menawan, Purwanto yang multi talenta, Ferdi yang cerdas dan eksis dengan keberadannya dan menjadi idola anak-anak dan ibu posko, Andika yang unik dengan segala keterkejutanku akan potensinya, Nico-nico yang lugunya minta ampun tapi kemampuannya dalam media tidak diragukan, pak jovan yang super perfeksionis, mabk elia yang super duper qowi (aku belum pernah bertemu akhwat se-qowi beliau)
Serta teman – teman yang lain, Arif (nyadar ko kader solo bukan jogja), sandra yang sholeh banget, mbak Wahtini yang sederhana dan memahami banyak makna, kata-kata yang inspiratif dari sudut pandang yang indah, pak Yudi yang baiknya gak ketulungan (membuat DPD layak dikunjungi, menghilangkan kesan structural sehingga DPD menjadi lebih bersahabat), akh Ritno yang kata beberapa orang lugu (lucu tur wagu) tapi cool n keren abis, dan teman – teman yang lain.
Ukhuwah itu sepenuhnya indah ….
Sahabatku …
Ijinkan aku mengenal tarbiyah ini lebih dalam … bersamamu
Aku tidak takut lagi mengejar ridho-Nya.
Bersama kalian … aku tidak takut lagi akan beban yang begitu berat
Bersama kalian … aku ingin memaknai lebih dalam makna berbagi …
Sebelum kita semua berterbangan dalam ladang dakwah berikutnya. Jadikan proses ini sebagai tarbiyahku… tarbiyahmu…
Murobbiku, ijinkan aku mencintaimu, dengan cara dan segala kekuranganku…
Saudariku …
Aku tahu, kelompok kecil liqo kita bukanlah kelompok liqo yang bisa dikatakan membanggakan. Kelompok liqo yang masih labil, tapi aku tau sebenarnya kalian tidak menginginkan demikian. Mari bersama – sama kita menata barisan, aku ingin kita melangkah bersama.
Saudara/I ku di SPM
Terima kasih telah menjadikanku lebih mengenal tentang makna berbagi yang sesungguhnya, merasa memiliki saudara/I yang benar – benar memahami diri, arti dan makna. Kalian indah, dengan karakteristik kalian masing – masing. Kalian adalah bagian tak terpisahkan dari ruh dan jiwaku, dan maaf aku sering emosian (tidak memungkiri karena itu bagian dari profesionalitas, hehe). Mari kita bersama – sama jadikan Sekolah Pintar Merapi sebagai inspirasi …
Teman – teman Toekang Poto,
Terima kasih kalian ada. Menjadi sebuah sanctuary bagi obsesi – obsesi gila, oase di tengah penatnya aktivitas, walaupun aku bukan bagian dari kalian, tapi keterbukaan kalian membuat toekang poto layak disayangi dan dimiliki semua orang.
Teman – teman di siyasi
Masa – masa waktu itu berat, tetapi menjadi indah karena adanya kalian dan sekarang pun kalian meberikan inspirasi dengan cara kalian sendiri. Terima kasih.
by. Hesti