Di Hari Ibu Jogja Memang Istimewa
December 22nd, 2011 - Tags: Hari IbuPosted in Akhwat, Berita
Masyarakat Indonesia di pelosok negeri ini sedang marayakan hari ibu yang jatuh pada hari ini Rabu (22/12). Tak ubahnya seperti hari raya idul fitri ucapan maaf, simpati dan selamat berupa putisasi pun ramai dijumpai di situ-situs jejaring sosial seperti Facebook dan Twitter. Banyak pula yang sekedar memberikan ucapan “Selamat Hari Ibu” secara langsung, melalui telpon dan sms.
Namun adakah kita mengetahui mengapa hari ibu dilaksanakan setiap tanggal 22 Desember? dan dimanakah pelaksanaannya?
Peringatan hari ibu ini berawal dari bertemunya para pejuang wanita pada sebuah Kongres Perempuan Indonesia pada 22 sampai 25 Desember 1928 lalu. Kongres tersebut dilaksanakan di sebuah gedung yang kini dikenal sebagai Mandalabhakti Wanitatama, Jalan Adisucipto, Yogyakarta. dan membentuk Kongres Perempuan yang kini dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani), kongres berikutnya diadakan di Jakarta dan Bandung.
Berbagai isu yang saat itu dipikirkan untuk digarap diantaranya, persatuan perempuan nusantara, pelibatan perempuan dalam perjuangan melawan kemerdekaan, dan pelibatan perempuan dalam berbagai aspek pembangunan bangsa. Selain itu, perdagangan anak-anak dan kaum perempuan, perbaikan gizi dan kesehatan bagi ibu serta balita, pernikahan usia dini bagi perempuan, dan polemik lain tentang persamaan gender juga turut diangkat.
Hasil dari kongres yang dihadiri sekitar 30 organisasi perempuan dari 12 kota di Jawa dan Sumatera ini, salah satunya adalah membentuk kongres perempuan yang kemudian dikenal sebagai Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Sedangkan penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu, kemudian diputuskan dalam Kongres Perempuan Indonesia III pada tahun 1938.
Presiden Soekarno menetapkan melalui Dekrit Presiden No. 316 tahun 1959 bahwa tanggal 22 Desember adalah Hari Ibu dan dirayakan secara nasional, hingga kini. Satu momen penting bagi para wanita adalah untuk pertama kalinya wanita menjadi menteri adalah Maria Ulfah di tahun 1950. Sebelum kemerdekaan Kongres Perempuan ikut terlibat dalam pergerakan internasional dan perjuangan kemerdekaan itu sendiri. Tahun 1973 Kowani menjadi anggota penuh International Council of Women (ICW). ICW berkedudukan sebagai dewan konsultatif kategori satu terhadap Perserikatan Bangsa-bangsa.
Pada kongres di Bandung tahun 1952 diusulkan dibuat sebuah monumen, setahun berikutnya diletakkan batu pertama oleh Ibu Sukanto (ketua kongres pertama) untuk pembangunan Balai Srikandi dan diresmikan oleh menteri Maria Ulfah tahun 1956. Akhirnya pada tahun 1983 Presiden Soeharto meresmikan keseluruhan kompleks monumen menjadi Mandala Bhakti Wanitatama di Jl. Laksda Adisucipto, Yogyakarta.
Misi diperingatinya Hari Ibu pada awalnya adalah untuk mengenang semangat dan perjuangan para perempuan dalam upaya perbaikan kualitas bangsa ini. Berdasar hal tersebut, tercermin pula semangat kaum perempuan dari berbagai latar belakang untuk bersatu dan bekerja sama. Dari momentum itulah, kini hari Ibu di Indonesia diperingati untuk mengungkapkan rasa sayang dan terima kasih kepada para ibu atau kaum wanita.
Ritno-Humas