Mengejar Kebajikan Hingga Ke Liang Lahat …
November 15th, 2011 - Posted in Taujihat Robbaniyahسَابِقُوْا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَـنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ، ذَلِكَ فَضْلُ اللهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ، وَاللهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ
“Berlomba-lombalah kamu kepada (mendapatkan) ampunan dari Robbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Hadid: 21).
Waktu adalah ladang amal. Alloh menyediakannya agar kita menggunakannya sebagai modal penting untuk menggapai ridho Alloh SWT. Siapa yang dapat memanfaatkan waktunya untuk mengumpulkan segala bentuk kebajikan, maka dialah pemenangnya di hari akhir kelak. Sebab, seorang mukmin bias diibaratkan seperti petani; dia akan memanfaatkan ladangnya untuk dengan berbagai macam tanaman, sehingga kelak ia akan memanen tanaman yang banyak. Atau juga bisa diibaratkan seperti pedagang, ia selalu memanfaatkan waktunya untuk menjajakan belanjanya, sehingga ia mendapatkan keuntungan yang besar.
Keutamaan seseorang di sisi Alloh, selain ditentukan oleh iman dan amal sholihnya, juga ditentukan oleh dalam keimanan dan amal sholihnya. Sebagai gambaran …., seseorang yang berada di barisan depan dalam sholat jamaah tentu berbeda dengan seseorang yang sholatnya di berada di barisan belakang. Demikian pula, seseorang yang datang pertama dalam sholat jum’at, juga berbeda nilai dengan yang datang kemudian.
Menyegerakan beramal dan terus mengejar amal, itu ajaran Nabi SAW. Dalam sebuah kesempatan Rasululloh SAW menasehati para sahabatnya untuk selalu menyegarakan amal sholih, kendati mereka adalah orang – orang mulia yang telah teruji keimanannya. Sabda Nabi SAW kala itu,
بَادِرُوا بِالأعْمَال فتناً كقطَعِ اللَّيْلِ المُظْلِمِ ، يُصْبحُ الرَّجُلُ مُؤْمِناً وَيُمْسِي كَافِراً ، وَيُمْسِي مُؤمِناً ويُصبحُ كَافِراً ، يَبيعُ دِينَهُ بعَرَضٍ مِنَ الدُّنيا
“Bersegeralah beramal (sholih). Sebab, fitnah akan datang bagai sepotong malam yang gelap. Seseorang yang paginya mu’min, sorenya menjadi kafir, atau seseorang yang sorennya ia beriman, pagi harinya ia menjadi kafir; lantaran menjual agama dengan haga dunia.” (HR. Muslim)
Adakah diantara kita yang tidak terlepas dari dosa selama 24 jam ?
Adakah diantara kita yang benar – benar menjadi seorang mu’min sejati tanpa cacat ?
Kita senantiasa mengikrarkan diri sebagai hamba dan penyembah Alloh semata. Namun …., benarkah itu …; bagaimana dengan orientasi hidup kita …?!
“Sungguh, sholatku, ibadahku HIDUP dan MATIku hanya untuk Robb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162)
” …. Hanya Engkau (Alloh) Yang Kami sembah ….” (QS. Al-Fatihah: 5)
Tentu kita senantiasa berdo’a dan memohon kepada Alloh, agar Dia menjadikan kita termasuk orang – orang yang sabar dan istiqomah.
Tetapi …., fitnah itu begitu cepat bergerak …, kemaksiatan begitu cepat menyebar …., sekali kita membiarkannya, maka selanjutnya ia akan bersemayam dan berkembang dalam tubuh kita. Begitu cepat dan betapa lembutnya pengaruh negative itu, sehingga ada sesorang yang lepas dari agamanya, dia menggadaikannya dengan kenikmatan duniawi, dan itu terkadang tanpa ia sadari.
Lantas …., dengan apa kita menutupnya …?! Ya, dengan amal sholih. Apa saja, dalam hidup orang yang beriman, bisa menjadi amal kebaikan. Missal, membuang sampah pada tempatnya, itu termasuk amal sholih. Berniat todak bohong, itu pekerjaan yang mulia. Bahkan ketika kita tidak memiliki sesuatu sekalipun.
Abu Dzar ra bertutur: bahwa ada beberapa orang dari sahabat Rasulullah SAW berkata kepada Nabi SAW: “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya itu telah pergi dengan pahala yang banyak. Padahal mereka shalat sebagaimana kami juga shalat. Mereka berpuasa, sebagaimana kami juga berpuasa. Namun mereka bersedekah dengan kelebihan harta mereka.”
Rasulullah SAW menjawab, “Bukankah Allah telah menjadikan sesuatu yang dapat kalian gunakan untuk bersedekah? Sungguh, setiap tasbih (ucapan: subhanallah) itu sedekah. Setiap takbir (ucapan: Allah akbar) itu sedekah. Setiap tahmid (ucapan: Alhamdulillah) itu sedekah. Setiap tahlil (ucapan: Laa Ilaaha Illallah). Perintah kepada kebaikan itu sedekah. Mencegah kemunkaran itu sedekah. Menggauli istri juga sedekah.”
Mereka bertanya, “Apakah jika salah satu dari melampiaskan syahwatnya, ia juga berpahala?”
Rasulullah SAW menjawab, “Tidakkah kalian mengetahui, jika seseorang melampiaskan syahwat pada tempat yang haram, itu dosa? Demikian pula, jika seseorang melampiaskan syahwatnya pada tempat yang halal, maka ia mendapatkan pahala.” (HR. Muslim)
Alloh SWT dengan keadilan-Nya memberikan peluang amal kepada masing-masing hamba. Baik yang miskin ataupun yang kaya. Masing – masing memeliki kesempatan yang sama untuk melakukan kebajikan dan mendapatkan ridho Alloh. Lebih dari itu, suatu amal tidak hanya dilihat dari jumlahnya, tetapi juga dilihat dari motivasi dan niatnya.
Prinsipnya, menyegerakan dan selalu beramal akan memberikan nilai tambah bagi pelakunya. Bersegera dalam kebajikan, berarti mempercepat untuk mendapatkan ampunan dari Alloh SWT. Sebab, ada upaya untuk menuntup pintu-pintu kemungkaran dan kebatilan, lalu membuka selebar-lebarnya pintu-pintuk kebajikan. Dengan demikian, maka Alloh akan membukan bagi dirinya pintu-pintu surge. Alloh SWT berfirman, yang artinya, “Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Robb kalian, dan (menuju kepada) surge yang luasnya seluas langit dan bumi, (itu) disediakan (hanya) bagi orang – orang yang bertaqwa.” (QS. Ali Imron: 133)
Mengapa Perlu mengejar Kebajikan ?
Pertama, asset waktu yang kita miliki hanya saat ini. Apa yang terjani nanti dan esok hari kita tidak tahu. Kemaren bukan lagi milik kita. Ia telah berlalu dan tidak akan kembali lagi. Kebaikan dan keburukan yang kita kerjakan kemaren tidak bisa kita ulang. Ia menjadi kenangan saat ini. Jika amal kebaikan, maka bersyukurlah, namun jika keburukan, maka menyesallah bersama dengan orang yang menyesal. Esok hari …, belum tentu menjadi miliki kita ….
Kedua, amal kita tidak mungkin dikerjakan oleh orang lain. Masing-masing orang akan datang kepada Allah membawa amalnya masing-masing. Keshalehan orang tua tidak bisa dijadikan jaminan bagi anaknya, demekian pula sebaliknya. Dan begitu seterusnya.
Ketiga, kemulian derajat seserang di sisi Alloh ditentukan oleh amalnya sendiri – sendiri. Bukan ditentukan oleh nasab status dalam jama’ah atau kedudukan orang tua, saudara atau yang lainnya.
Keempat, setiap waktu ada momentnya sendiri. Setiap waktu ada tuntutan amalnya. Banyak amal kebajikan yang terikat oleh waktu; yang ketika waktu berakhir, berakhir pula kesempatan untuk mengerjakannya.
Kelima, kesempatan orang untuk beramal sesuai dengan kemampuannya sendiri-sendiri. Orang kaya, beramal dengan hartanya. Orang yang berilmu dengan ilmunya. Seorang pemimpin dengan kekuasaannya.
Intinya, jangan sampai Alloh mencabut kesempatan yang telah diberikan oleh Alloh, hingga ketika ajal telah datang ia berkata, ” … Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian) ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang saleh?” (QS. Al-Munafiquun: 10)
Tetapi …., Alloh SWT telah menegaskan,
” Dan Allah sekali-kali tidak akan menangguhkan (kematian) seseorang apabila datang waktu kematiannya. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Munafiquun: 11)
Tidak ada waktu lagi untuk berpikir. Sekaranglah waktunya untuk berbuat dan beramal. Waktu luang, masa muda, kekayaan, adalah kesempatan untuk beramal.
Maka …, kejarlah kebajikan itu hingga ke liang lahat!